Setiap manusia mempunyai nafsu, hasrat, keinginan dan ego yang tinggi. setiap manusia pula berusaha untuk mewujudkan keinginannya. Tak jarang ketika keinginan itu terasa sulit untuk direalisasikan, maka segala cara dilakukan demi mengedepankan keinginannya.
kekuasaan, ya itu adalah hal terpenting yang dibutuhkan ketika seseorang ingin keinginannya tersebut mudah terwujud, dengan kekuasaan seseorang bisa dngan mudah mengatur segalanya. Maka dari itu ada sebagian orang berfikir untuk memperoleh kekuasaan "Tampuk Kepemimpinanlah" yang menjadi faktor terpenting agar seseorang bisa berkuasa. berkuasa dan menguasai tiap-tiap orang yang ada dibawahnya, dem memenuhi kepentingan pribadinya. Wallahu A'lam kita tak pernah tau pasti apa yamg mereka kejar.
sebagai seseorang yang telah mengikrarkan hidup kita dijalan Allah, yang menjadikan Rasulullah sewbagai uswah kita hingga akhir Zaman. Subhanallah tak jarang kita sering berhadapan dengan orang-orang seperti ini. bukan masalah bagi kita siapapun nanti yang akan jadi pemimpin kita. Tapi yang terpenting adalah, orang yang memimpin kita adalah orang islam yang komit kepada aqidah islam, bukan kepada kepentingan pribadi. karena dalam pandangan islam, hanya orang yang terikat dengan aqidah islam yang akan benar-benar mampu memberikan solusi bagi segala kemelutyang tengah terjadi dinegeri tercinta ini. Orang-orang semacam ini punya rasa tanggung jawab yang tidak tanggung-tanggung. Karena ia merasa bertanggung jawab kepada Allah. segala yang ia lakukan dan korbankan dalam membangun negeri ini "Perhitungannya" dengan Allah bukan dengan Manusia.
Tapi bagai mana dengan orang-orang yang komitmennya bukan kepada aqidah islam. bukan ridho Allah tujuan mereka. Bayangkan ..... jalan yang mereka tempuh untuk sampai pada puncak kepemimpinan adalah jalan picik, jalan yang jauh dari besih. Inalillahi Waina lillahi raji'un, astaghfirullah hal azim, terkadang mereka salah atau tidak sengaja melakukan kesalahan, tetapi mereka terlalu pengecut mengakui kesalahan itu didepan banyak orang didepan rival mereka. Alih-alih mengakui mengakui kesalahan sendiri, mereka malah mencari-cari kesalahan dan kekurngan orang lain , menjatuhkan rivalnya. maka pertanyaan besar untuk kita semua, akankah kita siap dengan kondisi pemimpin yang seperti ini.
Untuk jiwa-jiwa yang telah Allah anugrahkan nikmat-nikmat kepemimpinan. .........
(By Syifa Ambiya )
baturaja, 17-02-09
kekuasaan, ya itu adalah hal terpenting yang dibutuhkan ketika seseorang ingin keinginannya tersebut mudah terwujud, dengan kekuasaan seseorang bisa dngan mudah mengatur segalanya. Maka dari itu ada sebagian orang berfikir untuk memperoleh kekuasaan "Tampuk Kepemimpinanlah" yang menjadi faktor terpenting agar seseorang bisa berkuasa. berkuasa dan menguasai tiap-tiap orang yang ada dibawahnya, dem memenuhi kepentingan pribadinya. Wallahu A'lam kita tak pernah tau pasti apa yamg mereka kejar.
sebagai seseorang yang telah mengikrarkan hidup kita dijalan Allah, yang menjadikan Rasulullah sewbagai uswah kita hingga akhir Zaman. Subhanallah tak jarang kita sering berhadapan dengan orang-orang seperti ini. bukan masalah bagi kita siapapun nanti yang akan jadi pemimpin kita. Tapi yang terpenting adalah, orang yang memimpin kita adalah orang islam yang komit kepada aqidah islam, bukan kepada kepentingan pribadi. karena dalam pandangan islam, hanya orang yang terikat dengan aqidah islam yang akan benar-benar mampu memberikan solusi bagi segala kemelutyang tengah terjadi dinegeri tercinta ini. Orang-orang semacam ini punya rasa tanggung jawab yang tidak tanggung-tanggung. Karena ia merasa bertanggung jawab kepada Allah. segala yang ia lakukan dan korbankan dalam membangun negeri ini "Perhitungannya" dengan Allah bukan dengan Manusia.
Tapi bagai mana dengan orang-orang yang komitmennya bukan kepada aqidah islam. bukan ridho Allah tujuan mereka. Bayangkan ..... jalan yang mereka tempuh untuk sampai pada puncak kepemimpinan adalah jalan picik, jalan yang jauh dari besih. Inalillahi Waina lillahi raji'un, astaghfirullah hal azim, terkadang mereka salah atau tidak sengaja melakukan kesalahan, tetapi mereka terlalu pengecut mengakui kesalahan itu didepan banyak orang didepan rival mereka. Alih-alih mengakui mengakui kesalahan sendiri, mereka malah mencari-cari kesalahan dan kekurngan orang lain , menjatuhkan rivalnya. maka pertanyaan besar untuk kita semua, akankah kita siap dengan kondisi pemimpin yang seperti ini.
Untuk jiwa-jiwa yang telah Allah anugrahkan nikmat-nikmat kepemimpinan. .........
(By Syifa Ambiya )
baturaja, 17-02-09


Tidak ada komentar:
Posting Komentar